Mengenal Lebih Dekat Tentang Cutaneous Larva Migrans
Kesehatan

Mengenal Lebih Dekat Tentang Cutaneous Larva Migrans

Ditengah gaung Gerakan Masyarakat Sehat (GERMAS) yang gencar disosialisasikan oleh Pemerintah, ternyata masih banyak pula dari masyarakat kita yang kurang sadar akan kebersihan dan kesehatan diri sendiri. Keluar rumah tanpa menggunakan perlindungan kaki adalah hal yang biasa. Tanpa kita sadari, dari hal kecil seperti ini kita tengah terintai oleh penyakit Cutaneous Larva Migrans  atau lebih dikenal dengan infeksi cacing tambang.

Infeksi cacing tambang sendiri adalah infeksi yang disebabkan adanya kontaminasi kulit oleh parasit cacing. Jenis cacing yang dapat menularkan parasit semacam ini biasanya adalah cacing tambang yang dapat kita temukan pada berbagai binatang seperti domba, anjing, kuda, kucing, dan lainnya. Penyebaran penyakit ini sendiri biasanya lewat tinja binatang yang sudah terkontaminasi parasit ini, lalu manusia yang berjalan tanpa alas kaki yang akan menginjaknya akan terkena parasit ini yang nantinya akan menjadi Infeksi cacing tambang.

Infeksi cacing tambang sendiri biasanya disebabkan oleh siklus kehidupan parasit yang ditularkan oleh tinja binatang yang terkontaminasi oleh telur cacing tambang lalu terkena kulit manusia. Lalu larva parasit itu akan menembus kulit kita melalui folikel-folikel rambut, kulit yang sobek, atau bahkan kulit yang sangat sehat sekalipun. Namun, siklus kehidupan parasit ini tidak seperti binatang pada umumnya. Larva tidak akan mampu menembus epidermis kita sehingga penyakit ini hanya terjadi di luar lapisan kulit kita saja.

Penyakit ini sendiri biasanya tumbuh subur di negara-negara tropis dan sub-tropis, seperti Afrika, Amerika, Kepulauan Karibia, dan Asia Tenggara. Infeksi cacing tambang ini dapat menyerang siapa saja, namun anak-anak adalah basis terbesar penyakit ini karena anak-anak biasanya bermain di ruang-ruang terbuka tanpa menggunakan pelindung kaki. Infeksi cacing tambang sendiri juga tinggi resikonya di idap oleh orang-orang yang kerap berjemur di pantai dan bersentuhan langsung dengan tanah atau pasir pantai.

Gejala yang ditimbulkan oleh penyakit ini sendiri beragam, tergantung tingkat infeksinya. Pada infeksi yang cukup parah, penyakit ini dapat menimbulkan sensasi geli, gatal, dan tusukan selama 30 menit awal terkontaminasi. Lalu setelah beberapa jam terkontaminasi, kulit penderita akan memerah dan berubah warna hingga muncul benjolan pada permukaan kulit yang menyebabkan kulit menjadi kasar menyerupai kulit ular hingga 2-3 mm. Keadaan dapat semakin parah hingga kulit kasar ini akan melebar hingga 2 cm per harinya.

Pencegahan Cutaneous Larva Migrans ini sendiri dapat kita lakukan lewat hal-hal sederhana. Meskipun infeksi ini terjadi tanpa kesengajaan, kita tetap dapat menekan resiko adanya kontaminasi penyakit ini, yaitu:

  • Saat beraktivitas di luar ruangan, selalu gunakan alas kaki. Hal ini dapat menjadi pemutus rantai antara tinja binatang dan kulit manusia.
  • Hindari berjemur di pantai tanpa menggunakan alas. Saat berjemur, hindari untuk bersentuhan langsung dengan pasir pantai. Jika memungkinkan, bawalah alas seperti kain atau sebagainya untuk di alas berjemur.
  • Sebisa mungkin mengawasi hewan peliharaan kita saat membuang tinja. Saat kita mengajak hewan peliharaan kita seperti anjing dan kucing ke luar rumah, sebisa mungkin untuk tidak membuang tinja sembarangan untuk mencegah adanya kontaminasi di ruang terbuka.
  • Pemberian vaksin cacing pada hewan peliharaan dengan teratur. Pemberian obat cacing bagi hewan sendiri baiknya dilakukan sejak dini. Untuk anjing dan kucing dewasa sendiri waktu yang dianjurkan untuk pemberian obat cacing sendiri adalah 3-6 bulan.

Lewat hal-hal sederhana di atas, kita sama-sama dapat saling menekan resiko semakin tersebarnya penyakit ini.